Kepingan Firdaus di Perbukitan Pinia
Ada tempat di bumi ini yang seolah diturunkan dari langit sunyi, agung, dan mempesona. Di sanalah aku pertama kali menjejakkan kaki, dan dalam sekejap, jiwaku terpaut. Rasanya seperti berdiam dalam setengah hari surgawi. Mata menyapu lanskap luas, namun hati yang terpikatlah yang memberi nama: Kepingan Firdaus di Perbukitan Pinia (Pieces of Paradise in the Pinia Hills)
Catatan ini kutulis saat langit Papua Timur berselimut lembut cahaya mentari, bertepatan dengan momen kudus: perayaan Proklamasi Kristus yang telah dinyatakan dalam kehidupan masyarakat Meck lima dekade silam. Sebuah peristiwa rohani yang tak hanya mengubah sejarah, tetapi juga menyalakan terang di tengah kabut zaman.
Dari ketinggian 3.500 meter di atas laut, diapit oleh gunung-gunung berselimut embun dan bisikan angin purba, cinta Tuhan menyentuh bumi. Seolah Surga membuka pintunya, dan dari celahnya turun kasih yang tak terbendung—menembus hutan, menyeberangi lembah, dan menyentuh hati orang-orang Meck. Pada 9 Maret 1972, Injil pertama kali diproklamasikan di tanah ini. Firman menjadi manusia, dan cahaya menyala di lembah yang lama tertutup kabut sejarah.
Namun, tidak semua awal mulia hadir tanpa luka. Dua tahun sebelumnya, 12 Mei 1970, langit Pinia menghitam. Ledakan dan tembakan pecah di tempat yang mestinya menjadi taman kedamaian. Mereka menyebutnya "Peristiwa Pinia Bom Tembak", sebuah tragedi kemanusiaan yang tertoreh dalam ingatan kolektif, namun terlupa dalam lembar sejarah besar negeri ini. Di tanah yang kini dipanggil Firdaus, dahulu sempat terasa seperti neraka. Ada darah di antara doa, ada tangis di balik pujian.
Maka surga pun pernah dilukai. Namun justru dari luka itu, kasih sejati tumbuh. Sebab di tengah penderitaan, Tuhan menaruh penghiburan. Ia tak memalingkan wajah dari air mata anak-anak-Nya. Ia hadir, berjalan bersama, menghapus dukacita, dan menyelubungi Pinia dengan pelukan Roh Kudus yang menyejukkan. Di tanah inilah, cinta-Nya menjadi nyata—melebur dosa, menyembuhkan luka, dan menghidupkan harapan.
Kini, Pinia bukan hanya tempat. Ia adalah kesaksian, perjumpaan, dan penebusan. Di sinilah langit dan bumi bersalaman. Tuhan menjadikan langit sebagai atap, tanah sebagai alas, dan gunung sebagai altar tempat manusia mengagumi karya-Nya.
Pinia dianugerahi lebih dari sekadar panorama. Ia memiliki roh: budaya yang lestari, bahasa yang mengalun, adat yang hidup. Tradisi suku Meck tak pernah tercerabut oleh waktu. Bahkan ketika dunia bergegas, mereka tetap menjaga warisan leluhur dalam nyanyian malam, dongeng di balik tungku, dan tarian di lereng-lereng pagi.
Alam pun setia bersaksi. Perbukitan Pinia menyuguhkan pemandangan yang melampaui deskripsi. Di musim kemarau, mentari menari di celah-celah Fola, menyiram cahaya ke lembah Lolin dan kali Sesom. Gunung-gunung Inin dan Sevem berdiri seperti penjaga langit yang bersaksi atas kebesaran Sang Khalik.
Untuk mencapainya, butuh keberanian. Tak ada jalan yang mudah menuju Firdaus. Hanya ada dua pilihan: menantang diri dengan berjalan kaki melintasi lembah dan bukit, atau terbang di udara melalui pesawat perintis yang merajut langit Papua. Tapi percayalah, setiap langkah menuju Pinia adalah ziarah menuju keheningan yang suci.
Saat kau berdiri di sana—di antara kabut dan doa, di ujung dunia yang serupa awal segala permulaan—kau akan tahu bahwa surga pernah singgah. Pinia bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tapi firdaus untuk direnungi.
Dan jika engkau rindu akan keheningan yang berbicara, akan langit yang tak pernah berdusta, dan tanah yang tak lelah memberi, maka rencanakanlah perjalananmu. Bukan sekadar wisata, tapi ziarah jiwa ke Kepingan Firdaus yang Tuhan taruh di jantung Papua.

Komentar
Posting Komentar